Sehubungan
dengan hari sumpah pemuda, kami akan coba share
film inspiratif tentang tokoh inspiratif bernama Soe Hok Gie. Pasti sobat muda
tidak asing bukan? Yuk kita belajar dari sosok Soe Hok Gie melalui film yang
berjudul Gie yang kita akan coba ulas di postingan kali ini.
![]() |
| Cover Film Gie via id.wikipedia.org |
Berikut
ini adalah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari film Gie.
1. Pelajaran tentang moral
“Guru yang tak tahan kritik boleh
masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan
kerbau.” (Soe Hok Gie)
![]() |
| Adegan film Gie via generasibesar.blogspot.co.id |
2. Pelajaran Tentang Politik
![]() |
| Adegan dalam Film Gie via www.gulalives.co |
Jika
merujuk pada hasil skripsinya, “Dibawah Lentera Merah” dan“Orang-orang
Dipersimpangan Kiri Jalan”. Akan ada sebagian orang mengira Gie kental dengan
kiri. Namun, saat melihat keseluruhan film dan mencari, membaca
jejak-jejak pikiran, tulisan dan aksi-aksi Gie selama dia hidup, yang tercecer
dalam beberapa buku; “Soe Hok-Gie: Sekali Lagi, “Zaman Bergerak”, dan “Catatan
Seorang Demonstran”. Kita akan paham bahwa Gie justru menolak ide-ide
revolusioner dan aksi-aksi liar milik PKI selama ini.
Gie
hidup di zaman rezim menumbangkan Soekarno dan meredam arus PKI. Penolakannya
terhadap ide-ide komunisme itu dibuktikannya dengan ketidakterlibatan dirinya
dalam organisasi mahasiswa yang menjadi ‘underbow’ PKI di kampusnya
sendiri, Universitas Indonesia.
Namun,
kejatuhan pemerintah Soekarno dan naiknya Soeharto diwarnai sebuah drama
kemanusian yang memilukan dan banjir darah. Soe Hok-Gie salah satu intelektual
muda yang paling awal berani bersuara dan memprotes penangkapan, penyiksaan,
dan pembunuhan secara sewenang-wenang yang bertentangan dengan prinsip HAM. Gie
pergi langsung untuk mengumpulkan data-data yang kemudian ditulis sebagai
artikel.
Dalam
serangkaian pembunuhan di bali, Gie membuat dua serial artikel dengan
menggunakan nama samaran Dewa. di terbitkan Mahasiswa Indonesia edisi Jawa
Barat dengan judul "Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di
Pulau bali" yang isinya pada pembelaan pada hukum, keadilan, dan
kemanusiaan. Meski ia menyatakan sama sekali tak hendak membela Partai Komunis
(PKI) yang juga kejam dalam memberlakukan lawan-lawan politiknya.
Ketika
Orde baru mulai eksis, Gie mulai menemukan bayak kekecewaan salah satunya
melontarkan kritik pada tokoh Tionghoa yang duduk di Lembaga Pembinaan Kesatuan
Bangsa (LPKB) yang dianggap secara membabi buta memusnahkan semua hal yang
berhubungan dengan identitas ketionghoaan. Seperti mengganti nama lebih
kedengaran Indonesia.
Meski
kakaknya mengganti nama menjadi Arief Budiman. Gie tetap mantap menyandang nama
Soe Hok-Gie. Walau nantinya dia mengalami kesulitan di kantor Imigrasi ketika
mengurus paspor RI, pengalamanya tersebut dituangkan lewat tulisan yang
diterbitkan di Sinar Harapan, Maret 1969 dengan judul "Saya Bukan Wakil
KAMI".
Tidak
salah jika banyak yang bilang Soe Hok Gie merupakan sosok yang penuh
kontradiksi. Gencar mengkritik Partai Komunis Indonesia (PKI), Namun menjadi
orang pertama yang memprotes keras terjadinya pembantaian massal terhadap
anggota dan simpatisan PKI tahun 1965-1966.
Intinya sebagai pemuda kita tak boleh hanya sekedar memaki-maki keadaan tanpa berusaha untuk merubahnya.
Intinya sebagai pemuda kita tak boleh hanya sekedar memaki-maki keadaan tanpa berusaha untuk merubahnya.
Bagaimana
sobat muda? Kamu tertarik untuk menonton film yang satu ini? Silahkan segera
tonton ya biar lebih dapat inspirasinya. Semoga bermanfaat, jangan lupa share
ya!
Salam
pemudapedia! Pemuda berkarya, pemuda berdaya.



0 Comments
EmoticonEmoticon