Film Tentang Pemuda Indonesia Yang Merdeka Bernama Soe Hok Gie (2005)

Sehubungan dengan hari sumpah pemuda, kami akan coba share film inspiratif tentang tokoh inspiratif bernama Soe Hok Gie. Pasti sobat muda tidak asing bukan? Yuk kita belajar dari sosok Soe Hok Gie melalui film yang berjudul Gie yang kita akan coba ulas di postingan kali ini.

Cover Film Gie via id.wikipedia.org
Film ini berkisah tentang seorang demonstran yang segala pemikiran, pendapat, dan gugatan yang gencar ia lancarkan berpengaruh bagi orang-orang di sekitarnya, terutama bagi bangsa Indonesia yang pada saat itu dilanda krisis dan berbagai masalah yang berkecamuk di mana-mana.Pemuda bernama lengkap Soe Hok Gie ini adalah seorang yang berpendirian kuat, pendiam tapi kritis, tidak mudah terpengaruh oleh siapapun, dia adalah seorang pemuda yang bercita-cita akan merubah negeri yang semakin kacau ini, negeri yang di dalamnya terdapat ketidakadilan yang merambah dimana-mana, menjadi Negara yang betul-betul dapat mewujudkan keadilan, persatuan, keamanan, dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dia dikenal sebagai pemuda yang kritis dalam melihat ketidakadilan di negeri ini, terutama pada masa pemerintahan Soekarno.

Berikut ini adalah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari film Gie.

1. Pelajaran tentang moral

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.” (Soe Hok Gie)

Adegan film Gie via generasibesar.blogspot.co.id
Kalimat (argumentasi) tersebut merupakan kutipan dari catatan seorang aktivis mahasiswa (era 60-an), yang terkenal dengan sikap idealismenya yang kritis, kritis melawan kemunafikan, kritis melawan ketidakadilan, dan kritis dalam melawan penindasan pada saat itu. Bukan tanpa alasan Soe Hok Gie berbicara demikian waktu itu, ia merasa ada sesuatu yang salah terhadap gurunya, kala itu banyak guru yang merasa paling jago, merasa guru paling pintar.

2. Pelajaran Tentang Politik

Adegan dalam Film Gie via www.gulalives.co
Dalam film Gie, ada adegan Gie membaca buku Albert Camus; The Rebel, yang mendapatkan ilham besar dari Karl Marx. Bahkan lewat buku catatannya (Catatan Seorang Demonstran), mengakui bahwa dirinya seorang agnostic (tidak percaya Tuhan/agama). Hal ini juga “seolah” selaras dengan ajaran Marxist.

Jika merujuk pada hasil skripsinya, “Dibawah Lentera Merah” dan“Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan”. Akan ada sebagian orang mengira Gie kental dengan kiri.  Namun, saat melihat keseluruhan film dan mencari, membaca jejak-jejak pikiran, tulisan dan aksi-aksi Gie selama dia hidup, yang tercecer dalam beberapa buku; “Soe Hok-Gie: Sekali Lagi, “Zaman Bergerak”, dan “Catatan Seorang Demonstran”. Kita akan paham bahwa Gie justru menolak ide-ide revolusioner dan aksi-aksi liar milik PKI selama ini.

Gie hidup di zaman rezim menumbangkan Soekarno dan meredam arus PKI. Penolakannya terhadap ide-ide komunisme itu dibuktikannya dengan ketidakterlibatan dirinya dalam organisasi mahasiswa yang menjadi ‘underbow’ PKI di kampusnya sendiri, Universitas Indonesia.

Namun, kejatuhan pemerintah Soekarno dan naiknya Soeharto diwarnai sebuah drama kemanusian yang memilukan dan banjir darah. Soe Hok-Gie salah satu intelektual muda yang paling awal berani bersuara dan memprotes penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan secara sewenang-wenang yang bertentangan dengan prinsip HAM. Gie pergi langsung untuk mengumpulkan data-data yang kemudian ditulis sebagai artikel.

Dalam serangkaian pembunuhan di bali, Gie membuat dua serial artikel dengan menggunakan nama samaran Dewa. di terbitkan Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat dengan judul "Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Pulau bali"  yang isinya pada pembelaan pada hukum, keadilan, dan kemanusiaan. Meski ia menyatakan sama sekali tak hendak membela Partai Komunis (PKI) yang juga kejam dalam memberlakukan lawan-lawan politiknya.

Ketika Orde baru mulai eksis, Gie mulai menemukan bayak kekecewaan salah satunya melontarkan kritik pada tokoh Tionghoa yang duduk di Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB) yang dianggap secara membabi buta memusnahkan semua hal yang berhubungan dengan identitas ketionghoaan. Seperti mengganti nama lebih kedengaran Indonesia.

Meski kakaknya mengganti nama menjadi Arief Budiman. Gie tetap mantap menyandang nama Soe Hok-Gie. Walau nantinya dia mengalami kesulitan di kantor Imigrasi ketika mengurus paspor RI, pengalamanya tersebut dituangkan lewat tulisan yang diterbitkan di Sinar Harapan, Maret 1969 dengan judul "Saya Bukan Wakil KAMI".

Tidak salah jika banyak yang bilang Soe Hok Gie merupakan sosok yang penuh kontradiksi. Gencar mengkritik Partai Komunis Indonesia (PKI), Namun menjadi orang pertama yang memprotes keras terjadinya pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI tahun 1965-1966.

Intinya sebagai pemuda kita tak boleh hanya sekedar memaki-maki keadaan tanpa berusaha untuk merubahnya. 

Bagaimana sobat muda? Kamu tertarik untuk menonton film yang satu ini? Silahkan segera tonton ya biar lebih dapat inspirasinya. Semoga bermanfaat, jangan lupa share ya!

Salam pemudapedia! Pemuda berkarya, pemuda berdaya.



0 Comments


EmoticonEmoticon